Konsep Dan Praktek Philantropi Islam

Konsep Dan Praktek Philantropi Islam

Konsep Dan Praktek Philantropi IslamLatar Belakang – Dalam Islam selalu akan ada pembahasan yang akan membahas dua pokok pertanyaan mengenai pengelolaan aset. Dua pertanyaan itu adalah Bagaimana aset di peroleh dan bagaimana aset digunakan.

Aset diperoleh dengan beberapa cara yaitu dengan Hibah, Jual beli, Sewa, Join Venture, dll yang akan dimiliki oleh perusahaan/lembaga. Lalu aset akan digunakan dan dikelo oleh perusahaan dengan beberapa cara seperti dijual kembali dan disewakan kembali.

Dari bagan gambar yang kita lihat diatas jelas terlihat bagaimana cara memperoleh aset dan bagaiamana cara mengelola aset tersebut.

Disini kami akan membahas bagaimana mengelola aset yang telah didapatkan oleh perusahaan kemudian diberikan kembali kepada pihak yang membutuhkan. Pemberian yang dilakukan bukanlah untuk mendapatkan keuntungan semata tapi juga untuk memberikan manfaat untuk pihak yang menerimanya. Untuk itu kegiatan untuk memberikan bantuan itu akan disebut filantropi (philanthropy) atau kedermawanan. Beberapa bentuk untuk mengelola aset dengan kedermawanan adalah dengan wakaf, hibah, beasiswa dan lain-lainnya.

Kedermawanan atau filantropi (philanthropy) Sedangkan dalam bentuk perusahaan philantropy akan disebut Corporate Social Responsibility. Karena perusahaan merupakan institusi yang dominan di mana perusahaan pasti berhadapan dengan persoalan lingkungan dan sosial yang mempengaruhi kehidupan manusia.

Corporate Social Responsibility (CSR) saat ini sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat umum, sebagai respon perusahaan terhadap lingkungan masyarakat. CSR berkaitan dengan tanggung jawab sosial, kesejahteraan sosial dan pengelolaan kualitas hidup masyarakat.

Industri dan perusahaan dalam hal ini berperan untuk mendorong perekonomian yang sehat dengan mempertimbangkan faktor lingkungan hidup. Melalui CSR perusahaan tidak semata memprioritaskan tujuannya pada memperoleh laba setinggi-tingginya, melainkan meliputi aspek keuangan, sosial, dan aspek lingkungan lainnya. Penerapan CSR oleh perusahaan berarti bahwa perusahaan bukan hanya merupakan entitas bisnis yang hanya berusaha mencari keuntungan semata, tetapi perusahaan itu merupakan satu kesatuan dengan keadaan ekonomi, sosial, dan lingkungan di mana perusahaan beroperasi.

Sejarah Philantropi

Corporate Social Responsibility (CSR), merupakan wacana yang sedang mengemuka di dunia bisnis atau perusahaan. Wacana ini digunakan oleh perusahaan dalam rangka mengambil peran menghadapi perekonomian menuju pasar bebas. Perkembangan pasar bebas telah mendorong perusahaan dari berbagai penjuru dunia untuk secara bersama melaksanakan aktivitasnya dalam rangka mensejahterakan masyarakat di sekitarnya.

Sebagaimana hasil Konferensi Tingkat Tinggi Bumi (Earth Summit) di Rio de Jeneiro Brazilia 1992, menyepakati perubahan paradigma pembangunan, dari pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjadi pembangunan yang berkelanjutan (sustainable development).[1]

Dalam perspektif perusahaan, di mana keberlanjutan dimaksud merupakan suatu program sebagai dampak dari usaha- usaha yang telah dirintis, berdasarkan konsep kemitraan dan rekanan dari masing-masing stakeholders. Berbagai peristiwa negatif yang menimpa sejumlah perusahaan, terutama setelah reformasi, seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi para pemilik dan manajemen perusahaan untuk memberikan perhatian dan tanggung jawab yang lebih baik kepada masyarakat, khususnya di sekitar lokasi perusahaan. Sebab kelangsungan suatu usaha tidak hanya ditentukan oleh tingkat keuntungan, tapi juga tanggung jawab sosial perusahaan.

Telah banyak upaya perusahaan mengaitkan aktivitas mereka dengan masyarakat di mana mereka beroperasi dan memelihara, bahkan, menjamin keberlanjutan lingkungan hidup. Namun, tak sedikit pula perusahaan yang gagal memberikan makna kegiatan CSR mereka. Jadilah, semua upaya itu kurang produktif. Dua alasan mengapa upaya gigih perusahaan dalam aktivitas CSR mereka kurang berhasil. Pertama, mereka berpandangan bahwa antara perusahaan dengan masyarakat saling bertolak belakang. Padahal jelas sekali, di antara keduanya saling terkait, saling membutuhkan. Kedua, banyak perusahaan berpikir CSR sebagai cara-cara standar yang umum untuk strategi perusahaan. Padahal, justru sebaliknya. CSR harus dipandang sebagai satu upaya yang paling tepat bagi tiap strategi perusahaan. CSR dapat digunakan sebagai sumber perkembangan kesuksesan sosial yang luar biasa bagi perusahaan. Kesuksesan sosial ini diraih perusahaan dengan penerapan sumber daya, keahlian, dan pandangan-pandangan yang tajam dan jernih terhadap berbagai aktivitas yang bermanfaat untuk masyarakat[2] mempertahankan sumber daya manusia yang berkualitas. Keempat, perusahaan dapat meningkatkan pengambilan keputusan pada hal-hal yang kritis (critical decision making). Oleh karena itu tidak salah bila saat ini CSR dapat dianggap sebagai investasi masa depan bagi perusahaan. Minat para pemilik modal dalam menanamkan modal di perusahaan yang telah menerapkan CSR lebih besar, dibandingkan dengan yang tidak menerapkan CSR. Melalui program CSR dapat dibangun komunikasi    yang efektif dan hubungan yang harmonis antara perusahaan dengan masyarakat.

Kegiatan CSR yang diarahkan memperbaiki konteks perusahaan inilah yang memungkinkan kesejajaran antara manfaat sosial dan bisnis yang ujungnya untuk meraih keuntungan materi dan sosial dalam jangka panjang. CSR tidak haram dipraktikkan bahkan dengan target mencari untung. Yang terpenting kemampuan menerapkan strategi. Jangan sampai karena CSR biaya operasional menggerogoti keuangan. Jangan pula karena CSR masyarakat justru antipati. CSR lain halnya dengan building image.

Tujuan

Terbukanya pemikiran masyarakat akan hadirnya program CSR dalam perubahan lingkungan seiring berdirinya sebuah perusahaan di sekitarnya menjadi tujuan yang penting.

Manfaat

Menjadi saran dan kritik bagi perusahaan dan pemerintah dalam mengembangkan kebijakan-kebijakan yang berpijak pada kondisi masyarakat terkait masalah perekonomian masyarakat itu sendiri. Meyakinkan kepada perusahaan akan pentingnya kehadiran masyarakat dalam kelancaran usahanya serta penting adanya timbal balik yang diberikan kepada masyarakat melalui program CSR

Konsep Teori Corporate Social Responsibility (CSR)

Ide mengenai Tanggung jawab Sosial Perusahaan yang lebih dikenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR) saat ini menjadi salah satu pembahasan yang sedang tren baik di masyarakat umum, kalangan akademisi, dan tentu saja para pelaku bisnis. Terlebih sejak diberlakukannya Undang-Undang Perseroan Terbatas Nomor 40 tahun 2007 di mana termaktub mengenai kewajiban perusahaan untuk melakukan kegiatan CSR. Bahkan untuk memperoleh ISO 26000 yang akan diberlakukan tahun 2009 yang akan datang CSR adalah syarat mutlak yang harus dipenuhi sehingga ISO 26000 ini disebut pula sebagai ISO sosial responsibility.

Banyak argumentasi dan perdebatan mengenai konsep dan definisi tanggung jawab sosial perusahaan itu. Salah satu argumentasi yang sangat terkenal disampaikan oleh Milton Friedman pada tahun 1970 dengan pernyataannya bahwa perusahaan seharusnya tidak memiliki tanggung jawab sosial. Tanggung jawab perusahaan hanya pada bagaimana perusahaan memaksimalkan keuntungan kepada para pemegang sahamnya dan mentaati hukum. Perusahaan dalam pandangan Friedman adalah alat dari para pemegang saham (pemilik perusahaan). Maka apabila perusahaan akan memberikan sumbangan sosial, hal ini akan dilakukan oleh individu pemilik, atau lebih luas lagi, individu para pekerjanya, bukan oleh perusahaan itu sendiri.[3]

Di lain pihak, para pendukung konsep Corporate Social Responsibility (CSR) berargumentasi bahwa perusahaan memiliki tanggung jawab-tanggung jawab yang lebih luas dari sekedar mencari untung dan taat hukum terhadap para pemegang sahamnya. Tanggung jawab perusahaan itu mencakup isu-isu seperti lingkungan   kerja,   hubungan   dengan   masyarakat   sekitar,   dan   perlindungan terhadap lingkungan. Artinya ada unsur nonbisnis dan nonekonomis yang harus dilakukan perusahaan terkait lingkungannya.[4]

Pendapat yang mendukung ide tanggung jawab sosial perusahaan berasumsi bahwa perusahaan tidak hanya mencari keuntungan finansial bagi perusahaan saja. Tetapi perlu juga memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap publik, terutama   masyarakat yang tinggal di sekitar perusahaan. Hal ini karena masyarakat adalah sumber dari segala daya yang dimiliki dan diproduksi perusahaan.

Tanggung jawab sosial perusahaan terdiri atas empat dimensi tanggung jawab yaitu, ekonomi, hukum, etika dan philanthropis[5]. Dari perspektif ekonomi, semua perusahaan harus bertanggung jawab kepada shareholder, karyawan dan masyarakat sekelilingnya dalam hal pendapatan karyawan dan tersedianya pekerjaan. Tanggung   jawab hukum adalah perusahaan harus tunduk dan mematuhi peraturan yang berlaku. Kedua tanggung jawab disebutkan di atas merupakan tanggung jawab etika dan kegiatan philantrophis.

Tanggung jawab etika merupakan perbuatan yang diterima publik, peraturan pemerintah, competitor, kelompok-kelompok        masyarakat,     maupun oleh perusahaan itu sendiri. Etika bisnis mempunyai pengaruh yang lebih luas daripada peraturan formal. Melanggar etika merupakan masalah etika akan menghancurkan kepercayaan. Perusahaan yang melakukan empat tingkat piramida tanggung jawab sosial akan tenang dalam berbisnis melalui komitmen karyawan, pelanggan loyal, profit yang memadai, dan didukung oleh masyarakat dan negaranya, serta mempunyai budaya perusahaan.[6]

CSR dalam pengertian yang luas dipahami sebagai konsep yang lebih manusiawi di mana suatu organisasi dipandang sebagai agen moral.Oleh karena itu, dengan atau tanpa aturan hukum, sebuah organisasi bisnis, harus menjunjung tinggi moralitas. Dengan demikian, kendati tidak ada aturan hukum atau etika masyarakat yang mengatur, tanggung jawab sosial dapat dilakukan dalam berbagai situasi dengan mempertimbangkan hasil terbaik atau yang paling sedikit merugikan stakeholder-nya. Berdasarkan pandangan ini, sebuah organisasi bisnis dapat memutuskan tindakan atau perilaku mana yang paling etis dalam situasi tertentu dengan menerapkan prinsip-prinsip moral.

Pandangan lebih komprehensif mengenai CSR, dikemukakan oleh Caroll yang mengemukakan teori piramida Corporate Social Responsibility Menurutnya, Tanggung jawab sosial perusahaan dapat dilihat berdasarkan empat jenjang (ekonomis, hukum etis dan philantropis) yang merupakan satu kesatuan. Untuk memenuhi tanggung jawab ekonomis perusahaan harus menghasilkan laba sebagai fondasi untuk dapat mempertahankan eksistensinya dan berkembang. Tanggung jawab ekonomis ini merupakan hasrat paling natural dan primitif dari perusahaan sebagai organisasi bisnis untuk mendapatkan keuntungan. Namun demikian dalam mencapai tujuan mencapai laba sebuah perusahaan juga bertanggung jawab secara hukum dengan mentaati ketentuan hukum yang berlaku. [7]

Dalam  kaitan  itulah,  penerapan CSR dipandang sebagai sebuah keharusan.CSR bukan saja sebagai tanggung jawab, tetapi juga sebuah kewajiban. CSR adalah suatu peran bisnis dan harus menjadi bagian dari kebijakan bisnis. Maka, bisnis tidak hanya mengurus permasalahan laba, tapi juga sebagai sebuah institusi pembelajaran. Bisnis harus mengandung kesadaran sosial terhadap lingkungan sekitar.

TANGGUNG JAWAB SOSIAL PERUSAHAAN DALAM ISLAM

Tanggung jawab Sosial Perusahaan atau Corporate Social Responsibility adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.

CSR merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat atau pun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya

Definisi CSR menurut World Business Council on Sustainable Development adalah komitmen dari bisnis/perusahaan untuk berperilaku etis dan berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang berkelanjutan, seraya meningkatkan kualitas hidup karyawan dan keluarganya, komunitas lokal dan masyarakat luas. Wacana Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (Corporate Social Responsibility) yang kini menjadi isu sentral yang semakin populer dan bahkan ditempatkan pada posisi yang penting, karena itu kian banyak pula kalangan dunia usaha dan pihak-pihak terkait mulai merespon wacana ini, tidak sekedar mengikuti tren tanpa memahami esensi dan manfaatnya.[8]

Arti CSR Dalam Perspektif Islam. CSR itu singkatan dari corporate social responsibility artinya tanggung jawab sosial sebuah perusahaan terhadap stakeholder yang terdiri dari sinergi 3P= Profit, People, Planet. Jadi inti dari CSR adalah bagaimana dari sebuah perusahaan itu memiliki rasa tanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat (People) dan kelestarian limgkungan hidup (Planet) disekitar mereka dengan tetap tidak lupa memperhitungkan untung (Profit) jangka panjang yang akan didapat.

Contoh bentuk tanggungjawab itu bermacam-macam, mulai dari melakukan kegiatan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan perbaikan lingkungan, pemberian beasiswa untuk anak tidak mampu, pemberian dana untuk pemeliharaan fasilitas umum, sumbangan untuk desa/fasilitas masyarakat yang bersifat sosial dan berguna untuk masyarakat banyak, khususnya masyarakat yang berada di sekitar perusahaan tersebut berada.

Program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR)

 

  1. a) Community Relation

Kegiatan ini menyangkut pengembangan kesepahaman melalui komunikasi dan informasi kepada para pihak yang terkait. Beberapa kegiatan yang dilakukan PLN antara lain: melaksanakan sosialisasi instalasi listrik.

  1. b) Community Services

Program bantuan dalam kegiatan ini berkaitan dengan pelayanan masyarakat atau kepentingan umum. Kegiatan yang dilakukan selama tahun 2011, antara lain memberikan :Bantuan bencana alam.

  1. c) Community Empowering

Kegiatan ini terdiri dari program-program yang memberikan akses yang lebih luas kepada masyarakat untuk menunjang kemandiriannya.

Pandangan Islam terhadap Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Menurut Sayyid Qutb, Islam mempunyai prinsip pertanggungjawaban yang seimbang dalam segala bentuk dan ruang lingkupnya. Antara jiwa dan raga, antara individu dan keluarga, antara individu dan sosial dan, antara suatu masyarakat dengan masyarakat yang lain. Tanggung jawab sosial merujuk pada kewajiban-kewajiban sebuah perusahaan untuk melindungi dan memberi kontribusi kepada masyarakat dimana perusahaan itu berada. Sebuah perusahaan mengemban tanggung jawab sosial dalam tiga domain:

  1. Pelaku-Pelaku Organisasi , meliputi:
  2. Hubungan Perusahaan dengan Pekerja (QS. An-nisa ayat 149)
  3. Hubungan Pekerja dengan Perusahaan
  4. Hubungan Perusahaan dan Pelaku Usaha Lain; distributor, konsumen, pesaing.
  5. Lingkungan Alam (QS. Al-A’raf aya t 56)
  6. Kesejahteraan Sosial Masyarakat.

 

Praktek Masyarakat Muslim Indonesia

Dalam implementasinya dalam kehidupan sehari-hari kita dapat menemukan berbagai praktek Philantrophy. Beberapa organisasi masyarakat dan perusahaan sama-sama ikut dalam memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Ada beberapa bentuk kedermawanan yang diberikan langsung kepada masyarakat dan lingkungan disekitar perusahaan dan organisasi.

Beberapa Contoh praktek kedermawanan dari perusahaan dan organisasi dalam mengelola aset nya :

  1. Muhammadiyah Aid

Muhammadiyah Aid kembali mengirimkan tim medis ke luar negeri pasca-peristiwa gempa bumi di Nepal. Demikian pesan daring, Sekretaris MDMC, Arif Nurkholis, kepada awak media Lazismu (29/4/2015). Tim medis yang akan diberangkatkan, terdiri dari, Dokter Spesialis Ortopedi, Dokter Spesialis Anestesi dan Perawat Anestesi Muhammadiyah. Mereka bertolak ke Nepal sebagai bagian dari delegasi Republik Indonesia untuk bantuan kemanusiaan korban Gempa Bumi. Tim yang dibentuk otoritas penganggulangan bencana ini akan menjadi tim Indonesia pertama yang terdiri dari berbagai unsur, termasuk dari Tim Kesehatan TNI dengan dilengkapi perlengkapan rumah sakit bedah lapangan[9]

MuhammadiyahAID adalah program kerja kemanusiaan untuk luar negeri. Program adalah dibawah tanggungjawab MDMC. LazisMU sebagai lembaga penggalangan dana dibawah supervisi Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Akuntabilitas laporan keuangan bisa di akses melalui www.lazismu.org dan kegiatan lapangan melalui www.mdmc.or.id

  1. Nahdlatul Ulama

Sejak bencana gempa dan tsunami di Jepang pada 11 Maret 2011, Badan Kepolisian Nasional Jepang menginformasikan data terkahir (28/3) bahwa korban terhitung sebanyak 28.000 jiwa dipastikan tewas dan hilang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 10.901 orang dipastikan meninggal dan 17.649 lainnya dinyatakan hilang. Sementara sebanyak 2.776 jiwa masih dirawat, Dampak dari gempa dan tsunami yang terjadi mengakibatkan terbakarnya PLTN di Fukushima dan menimbulkan radiasi nuklir yang sangat membahayakan pada jiwa manusia.

LPBI NU (Lembaga Penanggulangan Bencana & Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama) telah menghimpun dan  menyerahkan bantuan kemanusiaan berupa uang senilai 24 juta rupiah untuk korban bencana di Jepang yang diserahkan melalui Japan Red Cross.[10]

  1. PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna)

PT HM Sampoerna Tbk (Sampoerna) melalui payung Corporate Social Responsibility (CSR) yang bertajuk Sampoerna untuk Indonesia (SUI) bekerjasama dengan Putera Sampoerna Foundation (PSF) membuktikan komitmennya untuk berperan aktif dalam dunia pendidikan dengan memberikan bantuan beasiswa kepada pelajar. Beasiswa tersebut diberikan kepada siswa Sekolah Menegah Atas (SMA) dan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di beberapa wilayah di Indonesia. Melalui program CSR, Sampoerna menggelontorkan dana kurang lebih Rp 70 miliar khusus untuk pendidikan.[11]

  1. FPI ( Front Pembela Indonesia)

tepatnya pada tanggal 7 Desember 2014 lalu memberikan bantuan donasi kemanusiaan yang diperuntukkan untuk saudara kita di Gaza-Palestina. Tak tanggung-tanggung bantuan berujud uang sebesar 500 Juta rupiah tersebut  langsung diserahkan pada dr. Jozerizal jurnalis, SP.OT  selaku pimpinan MER-C guna membantu para korban invasi militer israel  di Gaza Palestina.

Bantuan uang  tersebut menurut FPI adalah hasil donasi dari masyarakat Indonesia yang dikumpulkan oleh FPI. Bantuan langsung diserahkan dan dikelola oleh tim MER-C dimana sedianya donasi akan dipergunakan untuk pembangunan BANK DARAH di  Rumah Sakit Indonesia di Gaza Palestina. Fasilitas  ini sangat penting mengingat banyak korban berjatuhan akibat serangan bom yang seringkali kehabisan darah. Kondisi ini tentunya membutuhkan Bank Darah yang berguna bagi penyimpanan persediaan darah bagi pasien.[12]

 

DAFTAR PUSTAKA

Budi, Hendrik. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Sinar Grafika Hal 44

Carroll, A. B. 1991. The Pyramid OfCorporate Social Responsibility: Toward The Moral

Management Of Organizational Stakeholders, Business Horizons

Dirjosisworo Soejono, Hukum Perusahaan Mengenai Penanaman Modal, di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1999)

Rachman, Nurdizal. 2011. Corporate Social Responsibility. Jakarta:Penebar Swadaya.

Suharto, Edi. 2010. CSR Dan Comdev Investasi Kreatif Perusahaan Di Era Globalisasi.

Bandung: Alfabeta.

Tanudjaja, Bedjo.2006. Perkembangan Corporate Social Responsibility Di Indonesia.Surabaya.

 

[1] Rachman, Nurdizal. 2011. Corporate Social Responsibility. Jakarta:Penebar Swadaya. Hal 21

[2] Suharto, Edi. 2010. CSR Dan Comdev Investasi Kreatif Perusahaan Di Era Globalisasi.

Bandung: Alfabeta. Hal 17

[3] Tanudjaja, Bedjo.2006. Perkembangan Corporate Social Responsibility Di Indonesia.Surabaya.

Hal 93

[4] 8 Ibid Hal 94

[5] Budi, Hendrik. 2008. Corporate Social Responsibility. Jakarta: Sinar Grafika Hal 44

[6] Ibid Hal 47

[7] Carroll, A. B. 1991. The Pyramid OfCorporate Social Responsibility: Toward The Moral

Management Of Organizational Stakeholders, Business Horizons, Vol. 34No. 4 Hal 42

[8] Dirjosisworo Soejono, Hukum Perusahaan Mengenai Penanaman Modal, di Indonesia, (Bandung: Mandar Maju, 1999)

[9] www.lazismu.org/index.php/ar/component/k2/item/158-muhammadiyah-aid-kirim-tim-medis-dan-bantuan-kemanusiaan-ke-nepal/ (diakses tanggal 31 okteber 2015)

[10] http://www.nu.or.id/a,public-m,dinamic-s,detail-ids,1-id,27506-lang,id-c,warta-t,LPBI+NU+Memberikan+Bantuan+Untuk+Korban+Bencana+Jepang-.phpx/ (diakses tanggal 31 okteber 2015)

[11] http://m.tribunnews.com/bisnis/2015/10/22/sampoerna-gelontorkan-rp-70-miliar-khusus-untuk-pendidikan/ diakses tanggal 31 okteber 2015)

[12] http://www.kompasiana.com/dr_wahyutriasmara/fpi-sumbang-500-juta-untuk-palestina-anda_54f3a9dc7455139d2b6c7be2/ (diakses tanggal 31 okteber 2015)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *