Belajar Dari Cina, India Dapat TOT 160 Helikopter Kamov Ka-226T

Share:

Belajar Dari Cina, India Dapat TOT 160 Helikopter Kamov Ka-226TBerita Militer IndonesiaMOSKOW: India dapat memproduksi 160 dari 200 helikopter Kamov Ka-226T yang digunakan untuk menggantikan helikopter vintage Cheetah dan Chetak helikopter – sedangkan sisanya akan dilakukan di Rusia, Kata CEO dari perusahaan pembuat helikopter Rusia.

Sergey Chemezov, CEO perusahaan milik negara Rusia Rostec Corporation, mengatakan di bawah kesepakatan yang dicapai antara Rusia dan India pada manufaktur 200 helikopter KA226T, New Delhi akan bebas untuk membangun dan ekspor pesawat ke negara-negara lain.

Hal ini dianggap sebagai langkah maju menuju realisasi dari kampanye ‘ ‘Make in India’ ‘ oleh Perdana Menteri Narendra Modi yang berusaha menjadikan India sebagai negara yang siap memproduksi Alutsista dari dalam negeri.

Chemezov mengatakan bahwa untu yang 40 helikopter pertama akan diproduksi di Rusia dan sisanya akan dibuat di India dengan transfer teknologi dan lisensi untuk produksi.

Dikelola oleh perusahaan milik negara Hindustan Aeronautics Ltd dengan bermitra bersama Rusia untuk pembuatan Kamov Ka-226T helikopter dengan tujuan menggantikan helikopter  vintage Cheetah dan Chetak melalui kampaye ” make In India”.

Kerjasa antara India dan Rusia tidak akan terganggu walaupun India juga membeli alat tempur dari negara lain seperti jet tempur Rafale. Kerjasama antara Rusia dan India tetap setabil dan makin bersemangat, hal ini dibuktikan dengan kesediaan Rusia untuk memberikan transfer teknologinya kepada India.

Militer India masih bergantung pada Rusia untuk hampir 60-70 persen dari pasokan pertahanannya.  Selain bekerja sama untuk pembuatan helikopter India juga ikut bagian dalam pembuatan pesawat tempur generasi kelima “ Fifth Generation Fighter Aircraft (FGFA)” bersama Rusia. Bahkan secara Konsisten Rusia dan India menciptakan Rudal tercanggih dan tercepat di dunia yaitu Brahmos. 

“Make In India” Dan ” MEF Indonesia”

Rusia menunjuk perusahaan Reliance  untuk memproduksi Kamov 226T helikopter. Dalam surat yang dikirim kepada pemerintah India, Rusia telah mengumumkan kesepakatan dengan anak perusahaan dari Reliance Infrastruktur untuk proyek tersebut, menunjukkan bahwa perusahaan bisa menjadi integrator utama untuk kontrak mega untuk memproduksi 200 helikopter bermesin ganda untuk Angkatan Darat India

Sementara pilihan untuk bermitra dengan Unit sektor publik pertahanan Hindustan Aeronautics Limited (HAL) juga telah terus terbuka dengan persetujuan akhir dengan pemerintah India. Rusia menyadari sepenuhnya akan Masalah transfer teknologi “TOT” tersebut yang menyatakan syarat-syarat kontrak, seluruh teknologi manufaktur helikopter militer akan dialihkan ke entitas India dan bahwa setidaknya 50% dari mesin akan diproduksi dari sumber bagian lokal.

Semangat untuk menguasai teknologi terbaru untuk peralatan tempur besar bukan saja dimiliki oleh India. Semangat ini juga dimiliki oleh Indonesia, Militer Indonesia di berikan syarat setiap membeli persenjataan baru yaitu diharuskan dengan diikuti dengan Transfer of Teknologi ” TOT”. Hal ini dilakukan untuk melepaskan ketergantungan Indonesia terhadap produk luar negeri dengan menciptkan sendiri persenjataan buatan Indonesia yang dapat digunakan oleh militer Indonesia.

Sejauh ini program MEF yang dijalankan semenjak dipimpin oleh Presiden SBY telah berjalan baik. Beberapa transfer of teknologi yang telah dijalankan adalah program pembelian kapal selam dan pesawat tempur siluman KFX / IFX dengan Korea Selatan.

Perkembangan dari Kapal selam dan pesawat tempur Siluman KFX / IFX Indonesia masih dalam tahap desain dan menentukan mesin yang akan digunakan untuk diterapkan di pesawat tempur siluman itu. Pesawat tempur siluman buatan Indonesia dan korsel ini nantinya akan mampu bersaing dengan F-16, f-15 dan bahkan dapat mengalahkan F-22 milik AS.

Program MEF yang dijalankan oleh Indonesia memang terlihat kalah jauh dengan kampaye “buat di India” atau Make In India yang ingin semua peralatan tempur di buat di India. India rela mengeluarkan banyak dana untuk membeli banyak perlatan tempur demi memperoleh TOT dari negara manapun yang mereka inginkan. Sedangkan Indonesia bermain dengan dana yang kecil namun, ingin mendapatkan hasil yang besar seperti pembelian 3 kapal selam Korsel dengan sistem pembelian yang cerdik, untuk pertama insiur Indonesia hanya melihat Korsel membuat kapal selam, kedua, Korsel dan Indonesia membuat bersama dan ketiga Korsel hanya mengawasi Indonesia membuat kapal selam buat Indonesia.

Belajar Dari Cina, India Dapat TOT 160 Helikopter Kamov Ka-226T | Lucy | 4.5

Berita Lainnya